Membedah Cara Masyarakat Indonesia Membiayai Kesehatan

Administrator   |   Kesehatan  |   Jumat, 31 Mei 2019 - 11:36:44 WIB   |  dibaca: 11 kali
Membedah Cara Masyarakat Indonesia Membiayai Kesehatan

Ilustrasi layanan kesehatan. (Pexels/Wesley Wilson)

Jakarta - Asuransi kesehatan bukan lagi hal asing bagi masyarakat Indonesia. Anggapan bahwa asuransi hanya dimiliki oleh orang kaya karena merupakan pengeluaran ekstra untuk keadaan tidak terduga juga perlahan terkikis.

Survei bpjs-kesehatan.go.id menyatakan hingga 1 Mei 2019 sudah lebih dari 221 juta masyarakat Indonesia terdaftar menjadi peserta program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat dari pemerintah. 

Hal ini berarti 83,94 persen dari total seluruh penduduk Indonesia telah menggunakan BPJS Kesehatan.

Dilihat dari jumlah pengguna, BPJS Kesehatan juga tercatat sebagai salah satu asuransi kesehatan terbesar di dunia. 

Berbanding terbalik dengan kepemilikan BPJS, dari 265 juta penduduk Indonesia, dikatakan bahwa hanya sekitar 1,7 persen yang memiliki asuransi selain BPJS. Hal ini dinyatakan Ketua Dewan Asuransi Indonesia (DAI) dalam sebuah acara akhir 2018 lalu

Hal ini juga senada dengan hasil survei yang dilakukan Honestdocs dengan melibatkan 8.314 responden. Total 81 persen responden menyatakan tidak memiliki asuransi kesehatan. 
 

Membedah Cara Masyarakat Indonesia Membiayai Kesehatan



Bahkan dalam diskusi seputar perencanaan investasi dan keuangan, hanya sedikit orang yang memprioritaskan kepemilikan asuransi kesehatan dalam rencana jangka panjang. 

Kebanyakan dari mereka cenderung mengalokasikan dana ke dalam berbagai jenis investasi seperti properti, saham, logam, deposito, dan lain sebagainya. Padahal, proteksi asuransi kesehatan dapat dijadikan rencana jangka panjang dan pembayaran premi atau iuran kesehatan pun dapat disesuaikan dengan kemampuan keuangan.

Tetapi keengganan untuk memiliki asuransi kesehatan bisa saja disebabkan oleh beberapa hal. Misalnya seperti kondisi ekonomi dan jumlah pendapatan masyarakat yang masih kecil, kesulitan mendapatkan informasi dan pemahaman mengenai asuransi, tingkat pendidikan atau edukasi masyarakat yang masih rendah, serta anggapan bahwa asuransi kesehatan bukanlah kebutuhan pokok yang harus dimiliki.

Dari hasil survei, terlihat bahwa BPJS Kesehatan masih menjadi pilihan asuransi kebanyakan masyarakat (70%) kemudian diikuti oleh asuransi swasta (16%), asuransi tempat kerja (10%), dan lainnya (4%).
 

Membedah Cara Masyarakat Indonesia Membiayai Kesehatan



Pelayanan BPJS Kesehatan tampaknya sudah cukup merata di seluruh wilayah Indonesia. Sebanyak 51 persen penduduk Jakarta telah memiliki asuransi kesehatan dan rata-rata 46 persen responden wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan beberapa wilayah lain di Indonesia juga telah memiliki asuransi kesehatan.

Hal ini bisa dipengaruhi oleh tingkat rata-rata ekonomi masyarakat serta kemudahan akses dalam mendapatkan informasi dan layanan asuransi kesehatan terutama di kota-kota besar.

Maka dari itu, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan di seluruh Indonesia, pemerintah terus menambah kerja sama dengan berbagai fasilitas kesehatan, termasuk klinik utama, optik, hingga RS Kelas D Pratama. 

Saat ini, ada lebih dari 27 ribu faskes (fasilitas kesehatan) yang terdaftar dalam BPJS Kesehatan.

Dari total 8.314 responden juga diketahui bahwa yang memiliki asuransi kesehatan didominasi oleh usia 45-54 tahun dan rata-rata penduduk usia di atas 65 tahun tidak memiliki asuransi kesehatan. 

Menakar Untung-Rugi Asuransi Kesehatan

Asuransi kesehatan merupakan sebuah bentuk perlindungan atau proteksi terhadap seseorang atau keluarga dari sisi kesehatan. Asuransi kesehatan juga membantu mengurangi risiko finansial secara tidak terduga ketika seseorang sakit. Apalagi, biaya pengobatan di Indonesia setiap tahun cenderung meningkat. 

Dibandingkan 2018, biaya untuk mengobati penyakit naik sebesar 12,6%. Peningkatan ini lebih tinggi dibandingkan negara-negara di Asia, seperti Malaysia yang naik sebesar 12,5%, Singapura 9,1%, dan rata-rata negara lain di Asia naik sekitar 10%.

Tentu saja, kenaikan biaya pengobatan tersebut dapat menjadi beban tersendiri bagi kondisi keuangan jika Anda tidak memiliki asuransi kesehatan. 

Maka dari itu, Anda perlu mempertimbangkan beberapa hal berikut, seperti kondisi kesehatan, riwayat kesehatan keluarga, jumlah penghasilan dan biaya kebutuhan lain, serta manfaat yang diberikan oleh badan atau perusahaan asuransi kesehatan.

Beberapa perusahaan asuransi kesehatan yang umumnya digunakan para responden antara lain AIA, ASKES, Jamsostek, Cigna, Jasindo, Prudential, Sequis Life. Begitu pun Jaminan Kesehatan Nasional yang disediakan pemerintah bagi seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali melalui Kartu Indonesia Sehat yang dikelola BPJS Kesehatan.
 

Membedah Cara Masyarakat Indonesia Membiayai Kesehatan


Jika Anda sudah terlindungi dengan adanya asuransi kesehatan, Anda tidak perlu pusing lagi biaya pengobatan karena biaya yang timbul ketika sakit akan dialihkan kepada perusahaan asuransi. 

Tetapi pada kenyataannya, menurut hasil survei Honestdocs, sebanyak 61% masyarakat Indonesia masih membayar biaya pengobatan atau kunjungan dokterdengan menggunakan biaya sendiri-out of pocket, diikuti dengan pembiayaan yang ditanggung oleh asuransi kesehatan atau BPJS kesehatan sebesar 23%, dan dibiayai oleh tempat mereka bekerja sebanyak 16%.

Jika dilihat lebih dalam dan diambil nilai rata-rata dari hasil survei Honestdocs, sebanyak 70,75% responden usia 18-54 tahun masih harus membiayai pengobatan sendiri-out of pocket, lalu mereka yang sudah ditanggung asuransi pribadi atau BPJS Kesehatan adalah sebesar 11,25%, sisanya dibiayai dari tempat kerja (18,25%).

Hal ini kemungkinan disebabkan kebanyakan anak muda masih memiliki pola pikir bahwa usia muda dan sehat jarang terkena penyakit sehingga tidak membutuhkan asuransi kesehatan. 

Padahal, para pekerja usia produktif seharusnya sudah mempertimbangkan kepemilikan asuransi kesehatan. Hal ini terutama akan berguna dalam jangka panjang terutama setelah memasuki masa pensiun yang sudah tidak produktif lagi.

Jika dibandingkan dengan data responden usia 18-54 tahun, responden usia 55-64 tahun sudah lebih banyak menggunakan asuransi kesehatan ataupun BPJS kesehatan dalam membiayai perawatan medis yang dibutuhkan yakni sebesar 31%, sementara itu hanya 47% dari responden yang masih harus membiayai pengobatan dengan biaya sendiri (out of pocket), dan 22% lainnya masih ditanggung oleh perusahaan tempat kerja. 

Peningkatan pembiayaan oleh asuransi kesehatan mungkin dipicu oleh kesadaran akan kesehatan yang semakin tinggi dan peningkatan kemampuan finansial yang lebih mencukupi.

Sumber : CNN Indonesia

Profil Administrator

Administrator

Administrator utama dari website : www.nachannel.com

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook