Hujan Investasi bagi Startup Teknologi

Administrator   |   Teknologi  |   Senin, 07 Oktober 2019 - 12:57:42 WIB   |  dibaca: 6 kali
Hujan Investasi bagi Startup Teknologi

Jakarta - Pada 2018, Rp5,7 kuadriliun (US$407 miliar) telah digelontorkan untuk mendanai startup teknologi. Angka ini dikumpulkan dari 23 ribu kesepakatan pemberian investasi pada startup di seluruh dunia. Dana ini digelontorkan untuk 21 ribu perusahaan startup teknologi di 131 negara. Angka ini naik 23,3 persen dari 2017. Menandakan antusiasme investor menggelontorkan dana ke startup makin tinggi.

Menurut data yang dikumpulkan YoStartup, dari total pendanaan itu, hampir 40 persen disalurkan ke perusahaan di Amerika Serikat (38,57 persen) sebesar USRp2,2 kuadriliun (US$157,03 miliar). Sementara dana yang digelontorkan untuk startup Asia Tenggara hanya sekitar sepersepuluh dari investasi di AS sebesar Rp225,3 triliun (US$15,9 miliar).

Angka berbeda ditunjukkan Cento Venture Capital. Laporan pemodal ventura ini menunjukkan pendanaan yang terjadi di Asia Tenggara pada 2018 sebesar US$11 miliar. Sebanyak 70 persen pendanaan itu masuk ke Indonesia.

Berarti sekitar US$7,7 miliar masuk kantong startup Indonesia. Angka investasi sektor startup teknologi ini menyumbang setidaknya sekitar seperempat dari total investasi di Indonesia. Menurut data BKPM, total investasi di Indonesia pada 2018 mencapai US$29,3 miliar.

Investasi yang luar biasa besar ini menurut Strategic Communications Manager, Alpha JWC Ventures Adelia Anjani Putri sengaja digelontorkan agar startup bisa bertumbuh dengan cepat atau diistilahkan dengan hypergrowth.

"Tumbuh secara eksponensial dalam waktu singkat. Untuk melakukan itu, butuh pendanaan yang signifikan. Ini yang membuat bisnis konvensional dan startup berbeda," kata Adelia saat dihubungi, Jumat (4/10).

Perkembangan inilah yang dijadikan fokus oleh para startup, bukan keuntungan jangka pendek. Oleh karena itu dibutuhkan dana yang besar untuk terus-terusan berkembang.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa fokus perkembangan tersebut tertuang dalam ekspansi, penambahan talent, hingga perbaikan sistem atau jaringan startup.
"Kami sebagai investor menyediakan pendanaan yang cukup bagi mereka untuk mencapai target tersebut, disertai support (dukungan) lainnya, seperti strategi bisnis, rekrutmen, komunikasi, dan lain-lain," katanya.

Dalam wawancara dengan First Round, mentor dari berbagai startup di AS Khalid Halim menyatakan perusaaan startup teknologi tumbuh secara eksponensial. Pertumbuhan yang tidak linier inilah yang dicari.
"Perusahaan [...] bisa berkembang eksponensial. Khususnya pada perusahaan teknologi [...] suatu hari kamu bisa melayani 100 orang sehari dan sejuta pada tahun berikutnya."
Mencari startup yang tumbuh

Syarat mendapatkan pendanaan dari VC memang berbeda-beda di setiap sektor industri. Akan tetapi, benang merahnya adalah VC mencari startup yang mampu berkembang sebagai pemimpin pasar.

Namun Adelia menjelaskan, perusahaan yang berpotensi hypergrowth inilah yang diincar perusahaan pemodal ventura miliknya untuk diinvestasi.

"Intinya kami melihat seberapa besar peluang startup tersebut untuk berkembang ke depannya, seperti apakah mungkin mereka menjadi market leader," katanya.

VC juga melihat kualitas tim startup untuk menjadi tolak ukur sebelum melakukan pendanaan. Adelia menjelaskan tolak ukur ini akan dijadikan VC sebagai pertimbangan sebelum melakukan kerja sama. Pasalnya VC juga dipastikan harus bertukar pikiran dengan tim startup itu.

"Kami juga melihat kemampuan pendiri dan tim untuk mewujudkan visi mereka. Kami memperhatikan pengalaman para pendiri startup, komitmen dan visi mereka, sebelum memutuskan untuk bekerja sama dengan mereka," katanya.

Posisi Indonesia

Dihubungi terpisah, Presiden Direktur Astra Ventura Jefri Sirait menyebut sesungguhnya pihak pemodal ventura tidak masalah apabila startup jorjoran membakar uang investasi mereka. Istilah "bakar uang" ini muncul lantaran startup teknologi kerap royal berbagi promo sebagai bentuk strategi pemasaran.

Strategi bakar uang ini biasanya berbentuk diskon hingga cashback. Alasannya sederhana, yaitu agar tingkat kesadaran pengguna terhadap startup meningkat.

Padahal pendapatan mereka masih belum mampu menutupi semua pengeluaran itu. Sehingga mereka menghabiskan uang investasi yang mereka dapat sebagai sumber modal.
"Memang kalimat ini (bakar duit) menjadi sorotan. Akan tetapi, sepanjang dalam tatanan tertentu dalam marketing concept memang penting dalam bisnis. Justifikasinya memang penting," kata Jefri.

Menurut Jefri Indonesia merupakan salah salah satu tambang emas bagi para pemodal ventura (venture capital/ VC) untuk menanamkan modal kepada para startup atau perusahaan rintisan.

hal ini tak lepas dari potensi Indonesia sebagai pasar digital dan skala ekonomi yang besar dilihat dari jumlah penduduk. Selain itu, infrastruktur dan kemampuan sumber daya manusia terus dibenahi.

"Kita tidak bisa pungkiri bahwa Indonesia sangat berpotensi sebagai market (pasar) bagi inovasi teknologi saat ini. Baik dari segi populasi, pertumbuhan ekonomi yang terjaga dan juga lingkungan digital [...]," jelasnya.

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat pengguna internet di Indonesia hingga 2018 berjumlah 171,17 juta. Jumlah ini meningkat 10,2 persen dibandingkan 2017 sebanyak 143,26 juta
.

Profil Administrator

Administrator

Administrator utama dari website : www.nachannel.com

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook